Dekan Fakultas Politik Pemerintahan Hadiri Seminar Nasional ““Prospek Pengembangan Pendidikan Kepamongprajaan di Indonesia” di Kampus IPDN Makasar

Makassar, 27 April 2011). Setelah diadakannya rapat koordinasi bidang akademik  yang dihadiri oleh pimpinan  IPDN se Indonesia  (Jatinangor, Makassar, Manado, Bukittinggi, Rokan Hilir, Kubu Raya, Lombok Tengah) serta pejabat tinggi lainnya di lingkungan IPDN  yang bertempat di Hotel Kenari Tower Makassar pada hari Selasa (26 April 2011),  kemudian dilanjutkan dengan diadakannya Seminar Nasional yang bertemakan “Prospek Pengembangan Pendidikan Kepamongprajaan di Indonesia”  pada Rabu, 27 April 2011 masih bertempat di Hotel Kenari Tower Makassar.

Acara seminar dibuka oleh Gubernur Sulsel yang dalam hal ini diwakilkan oleh Sekretaris Provinsi Selatan Andi Muallim. Dalam sambutannya beliau menyampaikan akan pentingnya pendidikan kepamongprajaan sehingga tidak ada salahnya jika pemerintah mengeluarkan ongkos pendidikan yang tidak sedikit untuk membiayainya, karena pendidikan kepamonprajaan inilah yang diharapkan dapat   menyiapkan kader-kader pemerintahan yang berkualitas serta dapat diandalkan pada masa yang akan datang.

Seminar Nasional ini diisi oleh tiga pembicara yaitu Prof. Sadu Wasistiono, M.Si yang merupakan Wakil Rektor IPDN, Prof. Dr. Armin Arsyad, M.Si yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Etika Politik di Unhas serta Dr. H. Azikin Solthan, M.Si yang merupakan alumni APDN Makassar serta pernah menjabat Bupati Kabupaten Bantaeng-Sulsel selama dua periode. Adapun Seminar Nasional ini dipandu oleh Direktur IPDN Kampus Makassar sendiri yakni Ir. H. Dahyar Darabba, M.Si.

Dalam pemaparannya Prof. Sadu Wasistiono, M.Si menyampaikan bahwa seorang Pamong Praja merupakan orang yang dipercaya untuk membina, mengasuh, mengawasi negara atau pemerintah. Sehingga tidak salah jika seorang kader pamong praja perlu dikaderkan sejak dini seperti yang telah dilakukan IPDN dengan menerapkan pola kurikulum JARLATSUH( pengajaran, pelatihan, pengasuhan), sehingga diharapkan seorang pamong praja memiliki falsafah kepamongprajaan yakni “Pada dasarnya semua orang mempunyai potensi menjadi orang baik, kecuali telah menunjukan bahwa dirinya adalah jahat” dengan memliki pendekatan sikap percaya pada semua orang.

Prof. Dr. Armin Arsyad sendiri memberikan pembahasan mengenai reformasi kelembagaan IPDN dengan cara membuat dan melakasanakan aturan main yang mendukung terwujudnya kader pemerintahan yang terpercaya, berilmu, dan terampil sesuai dengan tuntutan pasar kerja serta melakukan rekruitmen praja, dosen, pegawai yang baik. Beliau pun memberikan masukan mengenai metode pembelajaran SCL (Student Learning Center) dimana siswa memiliki peranan aktif dalam proses pembelajaran.  Sedangkan Dr.H.Azikin Solthan, M.Si menyampaikan bahwa proses pembelajaran seorang kader pamong praja tidak hanya diperhatikan pada saat di lembaga pendidikannya saja tetapi juga perlu diperhatikan pada saat awal bertugas dan proses pengembangan diri pada saat telah menjadi alumni. Oleh karena itu seorang kader pamong praja di IPDN tidak boleh hanya diajar oleh para pendidik yang hanya berlatar belakang akademisi saja tetapi perlu juga yang berlatar belakang praktisi karena nantinya yang dicetak oleh lembaga pendidikan IPDN bukanlah seorang akademisi melainkan diharapkan menjadi seorang praktisi yang berlatarbelakang akademis.

Pada sesi tanya jawab, peserta banyak memberikan masukan mengenai proses pendidikan di IPDN yang ideal berdasarkan sudut pandang  masing-masing peserta.  Diantaranya reward yang seharusnya diberikan kepada tenaga pengajar, muatan-muatan kurikulum diharapkan lebih aplikatif dan program-program yang dikerjasamakan dengan pemerintah daerah.  Disiplin kepada peserta didik juga mendapat sorotan tajam dari sebagian peserta yang hadir.  Pada kesempatan tersebut Prof. Dr. Taliziduhu Ndraha  yang terkenal dengan teori Kybernology-nya atau Ilmu Pemerintahan Baru menyampaikan pesan dan nasehat dengan berapi-api kepada semua orang yang hadir di ruangan hotel tersebut bahwa jangan sampai kita melupakan sejarah atau kita kenal dengan istilah Bung Karno JAS MERAH “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Blog Attachment

Leave us a Comment